
Karya Ilmiah Dosen di Media “Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita”
Salah satu dosen dari Universitas 45 Surabaya kembali menunjukkan kontribusi keilmuan melalui publikasi di media massa.
Melalui artikel yang dimuat di Harian Disway berjudul “Siswa Belum Bisa Membaca dan Riset Palsu: Potret Sakitnya Pendidikan Kita”, diangkat refleksi kritis mengenai berbagai persoalan mendasar yang masih membayangi dunia pendidikan Indonesia.
Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa kemampuan literasi dasar, khususnya membaca, masih menjadi tantangan serius di sejumlah jenjang pendidikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui angka partisipasi atau kelulusan semata, tetapi juga harus dilihat dari kualitas kompetensi yang benar-benar dimiliki peserta didik.
Lebih lanjut, artikel ini juga menyoroti fenomena riset yang dilakukan hanya untuk memenuhi tuntutan administratif tanpa mengedepankan integritas akademik. Praktik riset yang tidak berkualitas bahkan mengarah pada manipulasi data berpotensi merusak budaya ilmiah dan menghambat kemajuan pendidikan tinggi.
Selain itu, rendahnya kemampuan literasi dan lemahnya budaya akademik sesungguhnya memiliki akar persoalan yang sama, yakni kurangnya penekanan pada kualitas proses pembelajaran, budaya berpikir kritis, serta integritas dalam dunia pendidikan.
Pandangan ini menegaskan bahwa pembenahan pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan literasi dasar, peningkatan kualitas pembelajaran, hingga penegakan etika akademik dalam kegiatan penelitian.
Sebagai bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam diseminasi pemikiran akademik, publikasi ini diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun sistem pendidikan yang lebih berkualitas, berintegritas, dan berorientasi pada masa depan bangsa.
🔗 Baca artikel selengkapnya di media asli:
https://harian.disway.id/read/951275/siswa-belum-bisa-membaca-dan-riset-palsu-potret-sakitnya-pendidikan-kita